About Me

My photo
Happy-go-lucky concert goer yet hopeless romantic Taurean. I speak fluent Javanese, Indonesian, English, and Sarcasm. Forever in love with Liverpool FC, Children, L'Arc~en~Ciel, Cats, Chocolate, and Purple. Steven Gerrard is Legend. Iron Man is Superhero.

Friday, 16 August 2013

The Desert and The Deserted

Berat rasanya mengenang Afrika Utara lagi. Setelah Mohamed Bouazizi, rasanya nggak ada lagi hal indah yang meninggalkan kesan tentang kawasan tersebut. Okay, Maroko dengan Casablancanya mungkin. Selebihnya?

I've been reading news about Egypt since last month. Tepatnya saat Mursi dikudeta (padahal, Mursi itu Presiden Mesir pertama yang dipilih melalui proses demokrasi) militer Mesir (SCAF). Ya, lagi-lagi kudeta. Nggak habis pikir kenapa Mesir selalu bernuansa kudeta. Masih jelas sekali dalam ingatan saat saya membaca buku sejarah kepemimpinan militer di Mesir. Ah... tesis. Kok jadi kangen sama studi pustaka... menghabiskan waktu berjam-jam di bilik perpustakaan untuk sekedar kembali ke masa lalu... melewati lorong waktu dan melihat kembali kronologi monumental sebuah bangsa.

I don't know why I'm so into MENA (Middle East and North Africa), probably it's caused by Mohamed Bouazizi, at first, but then every single thing about it pulls me in. Like finally I have something in IR that interests me so much. Sejarah, bangsa, dan struktur politiknya yang saklek dan begitu-begitu aja mungkin buat sebagian orang terlihat membosankan. Namun sejak Arab Spring mulai menggema di akhir 2011 sampai sekarang, I keep my eyes on MENA.

What happened in Egypt today is not a new thing. Mesir ini bisa dibilang mesra banget sama yang namanya kudeta. Hmmm... kalo dilihat lagi ke belakang, waktu masih dipimpin King Farouk, pernah terjadi kudeta. Gamal Abdul Nasser yang waktu itu berpangkat Kolonel memimpin kudeta di tahun 1952. Saya masih bisa memaklumi alasan kudetanya. King Farouk memang nggak bisa disebut Raja yang baik. He's greedy, menimbun harta kekayaan, dan disebutkan juga nggak pernah ada di sana untuk rakyat saat masa-masa sulit Perang Dunia ke-2. Rumor has it, he stole some stuff during his visit. Jam saku milik Winston Churcill dan pedang milik Shah Iran adalah beberapa benda yang katanya dibawa pulang oleh King Farouk. *smh*

And so long King Farouk. Abdel Fatah al-Sisi, Mayor Jenderal atasan Kolonel Gamal Abdul Nasser yang akhirnya didapuk menjadi pemimpin interim. 18 Juni 1953, Republik Mesir dibentuk dengan Mohamed Naguib sebagai presiden pertamanya. What happened next? yep, another coup d'etat. Guess who's behind this one? yep, Gamal Abdel Nasser again, people. Yep, of course he was the President after 2 yrs became the only candidate for it.

Nasser ini gimana ya... disegani rakyat iya, dibenci dunia juga iya. Soalnya di pemerintahannya, Pan Arabisme dibangkitkan kembali, Nasionalisme Arab jadi kekuatan baru. Di sisi lain, Nasser menasionalisasikan Terusan Suez yang berakibat terjadinya krisis. Mesir harus berhadapan dengan Inggris, Prancis, dan Israel yang notabene sama-sama punya kepentingan di situ. Pada akhirnya dunia internasional memutuskan bahwa Terusan Suez masuk kedaulatan Mesir. Nasser juga punya proyek besar di segi infrastruktur, yang terkenal adalah Bendungan Aswan, dibangun atas bantuan pemerintah Uni Soviet. Sebenarnya Nasser sempat mengumumkan pengen mengundurkan diri tapi nggak boleh sama rakyat. Baru di tahun 1970 digantikan oleh Anwar Sadat (this time, no coup d'etat) sejak menjabat sebagai Presiden di tahun 1954. Nasser meninggal di tahun tersebut karena serangan jantung, tepatnya 2 minggu setelah Perang Mesir-Israel selanjutnya (War of Atrition) yang dipimpinnya.

Anwar Sadat. Pengagum Hitler, Gandhi, dan Attaturk ini kurang lebih sama dengan Nasser. Penggebrak. Sadat juga disukai sekaligus dibenci rakyat. Selama pemerintahannya, Sadat pelan-pelan membawa Mesir menuju era liberal-kapitalisme. Terusan Suez yang tadinya privat, Ia buka untuk kepentingan ekonomi dengan metode perdagangan bebas. Aksi Sadat yang paling kontroversial adalah sikapnya terhadap Israel. Well, Arab and Israel will never ever be in peace like ever... but Sadat did some dramatic act during his reign. He was Egypt's first ever man to sign what so called peace treaty, Camp David 1979. Dunno if Billy Corgan wrote 1979 because of this historical moment, nevermind, he wouldn't bother this. Anyway, Sadat dianugerahi Nobel Perdamaian karena tindakannya ini. International recognition? jelas. Pan Arabism bagaimana? Well, Sadat dianggap egois dan nggak mikirin saudara-saudara Arabnya yang lain gara-gara ini. Dibenci dong? ya iyalah :D Khadaffi dan Assad terutama, geram banget sama Sadat.

Next coup d'etat in Egypt happened on October 6th, 1981. Exactly at the day when Sadat held his annual military parade. Sadat memang mengagendakan parade militer tiap tahun, ya semacam peringatan angkatan bersenjata gitu kalau di negara kita, mirip seperti itulah. Kudeta berdarah ini dipimpin oleh Letnan Khaled Islambouli. Skenarionya begini, saat beberapa perwira mendekat ke stage tempat Sadat duduk untuk bersalaman satu-persatu, mereka sebelumnya udah bawa granat tangan. Lupa tepatnya berapa jumlah granat yang dilempar, kira-kira 3 buah. Once I read that Sadat's wife already warned him to wear a bulletproof vest like the usual but he refused. So the first grenade thrown, memantul dari dinding ke tribun penonton. Semua panik, belum sempat menyelamatkan diri, granat ke-2 dilempar diikuti yang ke-3. Sadat, Mubarak (wakilnya), dan beberapa pejabat pemerintahan penting termasuk duta besar terluka parah. Sadat sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya nggak tertolong. So that's the end of his reign.

Hosni Mubarak, wakil presiden era Anwar Sadat secara konstitusional kemudian menempati posisi sebagai kepala negara. Ahem... ini dia diktator Mesir yang sesungguhnya. Kalau ngomongin Mubarak rasanya kok makin berat saja deh nafas ini. Hosni Mubarak dan Zein el-Abidine ben Ali, yang masih tetangga dan sempat jadi subjek penelitian tesis saya, 11-11.5 aja dalam hal kemiripan pemerintahan. Kontrol yang absolut. Vodka aja kalah. Saya nggak ngerti apa yang ada dalam pikiran Mubarak sampai bisa menjelma jadi Fir'aun abad 20 begitu. Teman kuliah saya yang pernah bersekolah di Mesir sempat merasakan masa emas Mubarak. Mendingan mana Mubarak atau Soeharto? keduanya nggak bisa dibandingkan begitu aja karena menurut saya, pemerintahan Soeharto masih ada sisi baiknya, yaaa walaupun gitu deh...

Okay, menjabarkan kejahatan Mubarak tidak semudah menjabarkan perasaan saya kepada dirimu... karena ini terlalu sistemik dan terorganisir. Saya highlight kejahatan Mubarak yang penting, tak terlupakan, dan terlanjur nyantol di kepala. Mubarak memilih untuk menutup pintu perbatasan yang mana adalah jalan teraman satu-satunya menuju Gaza saat Israel kembali menginvasi Palestina beberapa waktu lalu. Siapa yang nggak marah? mungkin cuma Israel dan aliansinya. Masih ingat kejadian kapal Mavi Marmara? begitulah. Di era Mubarak, mahasiswa (nggg... nggak cuma mahasiswa sih, oke, rakyat) nggak boleh yang namanya berkumpul setelah jam belajar/kerja. Kegiatan berkumpul itu dianggap mencurigakan, like puhlease... teman saya yang mengadakan kajian Al-Qur'an bareng mahasiswa lain sempat diperingatkan keras oleh pihak universitas. Saya lupa detentionnya berupa apa yang jelas cukup berat. And oh, not to mention harga roti di sana alamak... 

Mesir ini nggak jauh beda sama Indonesia dari segi pemerintahannya. Penguasa mana sih yang nggak pengen langgeng di atas? apa aja dilakukan untuk tetap bisa mengontrol sumber daya alam dan manusia. Mubarak yang orang militer tahu betul masalah ini. Mubarak mengharamkan partai yang berlandaskan Islam. Whatever the name is, forbidden. Ikhwanul Muslimin itu haram. Whoever criticizes his government, get ready to be jailed (yang ini mirip era Soeharto ya... semoga Allah menerimamu, Wiji Thukul... amin). Saya rasa setelah Sadat, Mubaraklah Presiden Mesir yang akrab dengan negara Barat. Well, thanks to Israel, BFF! So sweet :') NOT!

Tibalah hari dimana pada suatu pagi seorang penjual buah dengan gelar sarjana asal Tunisia bernama Mohamed Bouazizi melakukan aksi bakar diri, self-immolation. Bouazizi ini sosok yang bikin jantung saya skipped a beat waktu dengar podcastnya. This Arab Spring Icon had me at "enough is enough..." before he showered himself with gasoline and burned himself right in front of the town hall. May Allah put you in one of the Paradises, amin. Bouazizi cuma 1 dari sekian puluh juta rakyat yang hidupnya memprihatinkan kalau kata Presiden kita. Bouazizi nggak cuma ada di Tunisia. Puluhan juta Bouazizi hidup setiap harinya di MENA dengan persoalan yang kurang lebih sama.

aaand BOOM!
Bouazizi triggered Tunisians to overthrow their President who's been ruling the country for 23 yrs. Yep, another dictator. What happened in Tunisia then widespread to the rest of MENA, tak terkecuali Mesir. Kalau proses penggulingan Zine el-Abidine ben Ali di Tunisia tergolong cepat, di Mesir memakan waktu lebih lama. Maklum, di Mesir tentaranya jauh lebih banyak daripada di Tunisia yang justru lebih banyak polisinya. 1 Februari 2011, Mubarak mengumumkan pengunduran dirinya. Rakyat puas? Enggak. Banyak yang bilang kalau pidato Mubarak itu seadanya, nggak tulus, nggak ada penyesalan dan rasa bersalah sama sekali. Ya, sama aja sih dengan speech Ben Ali yang bilang dengan meyakinkan nggak akan nembakin demonstran... in the end ditembak juga segitu banyak manusia. Lagu lama, album baru, pita kusut...

Sebenarnya setelah penggulingan Mubarak, Mesir memang belum benar-benar stabil. Walaupun Mohamed Morsi dipilih secara demokratis tapi tetap saja digulingkan. Morsi ini siapa sih? Ikhwanul Muslimin adalah partai yang membesarkan Morsi. Partai Islam ini bisa dibilang seperti duri dalam daging di pemerintahan Mesir selama ini. Pokoknya pro-kontra mengenai eksistensi partai ini nggak akan ada habisnya kalau dibahas. 

Militer Mesir dan Ikhwanul Muslimin nggak pernah akur dari dulu dan memang nggak akan pernah bisa akur. Mungkin hanya setahun saja, waktu Morsi terpilih jadi Presiden. In the end, dikudeta juga kan oleh militer? This never ending cycle sebenarnya membosankan. Rakyat Mesir, atau MENA secara keseluruhan, kalau ditanya mengenai hal ini (militer dan partai Islam) pasti bosan menjawabnya. Hal yang sering terjadi di sebagian besar negara MENA: partai Islam (yang posisinya selalu menjadi oposisi) dianggap berbahaya sehingga dalam prakteknya tidak jarang para pemimpin dan aktivisnya ditahan selama bertahun-tahun. Di Tunisia, ada yang ditahan dan diasingkan selama Ben Ali berkuasa. Sakit.

Morsi sendiri, sejak dikudeta bulan Juli lalu, sampai sekarang masih ditahan oleh pihak militer. Ikhwanul Muslimin juga dituduh sebagai otak di belakang demonstrasi yang berujung dengan kerusuhan di Kairo. Massa pendukung Morsi yang menuntut pemulihan kekuasaan bentrok dengan militer Mesir yang kepalanya pada keras banget melebihi kerasnya hatimu... alah. As a result, they even made some fortress in their base camp in order to deal with the Egypt Military Forces. It's been weeks since the first chaos and reportedly more than 200 died and more than 3000 seriously injured. What I don't understand about Egypt Military Forces is that they burned a hospital. This is not chaotic mass. This is massacre.

Permasalahan ini nggak akan selesai karena memang sudah mengakar dari jaman Mesir masih berbentuk monarki. Saya setuju sama Michael C. Hudson (dia pakar dan peneliti MENA yang bukunya saya jadikan landasan teori tesis) bahwa legitimasi adalah problem utama yang jadi penyebab kenapa negara-negara MENA ini terus aja begini nggak berubah-berubah juga. Struktur politik lokal yang masih mempertahankan Pan Arabism (walaupun sekarang agak sedikit keliberalan, tapi sedikiiiiiiiit banget) makes it hard to accommodate the people's need: freedom. Freedom disini dimaknai sebagai kebebasan yang bertanggung jawab, terutama pemenuhan hak asasi manusia dulu aja deh yang paling basic. Itu saja masih diabaikan dan banyak sekali violation (forget about Human Rights Watch, organisasi semacam itu habis di MENA) terhadapnya.

Dari segi political community bangsa mereka juga belum bisa berkompromi, bisa jadi sih soalnya struktur bangsa Arab ini kompleks banget. Ruwet. Demokrasi nggak bisa diterapkan begitu saja di MENA karena ini bisa berpengaruh ke legitimasi pemimpinnya. Legitimasi itu diperoleh dari bawah ke atas, pengakuan dari rakyat ke pemimpinnya. Selama ini legitimasi para pemimpin MENA itu sudah ada karena ya... it's kinda tradition seperti di negara-negara Arab yang masih monarki dan atau seperti di Mesir, Libya, dan Tunisia itu... rakyat nggak diberi kesempatan untuk mengenal calon pemimpinnya seperti di negara kita (ada kampanye sebelum pemilu), et voila kudeta lalu Presiden baru. These leaders automatically got the legitimacy since people got no choice also. Legitimasi yang semacam ini bisa diibaratkan stalaktit. Semakin ke bawah semakin berkurang. 

Those Rulers thought that their people were afraid of them and wouldn't do such thing to counter. The fact that Egypt never learn from what happened to Tunisia is one silly thing. Walaupun pemerintah Tunisia sekarang masih berusaha memulihkan keadaan negara, tapi paling tidak pemerintahnya tahu bahwa restrukturisasi dan reformasi sistem itu harus. Bouazizi itu boiling pointnya rakyat Tunisia. Enough is enough. And when enough is enough, the people power take over... that's when the government must be afraid. Beberapa pemimpin MENA sudah melek dan dengan sukarela akhirnya melepaskan jabatannya, ada juga yang keukeuh pengen di atas oleh karenanya merubah UU dan peraturan-peraturan jadi sedikit lebih manusiawi (UEA nih paling bisa deh). Nah, Militer Mesir ini yang saya paling nggak ngerti jalan pikirannya. Sejak dulu nggak melek-melek juga. Orang udah eneg banget sama mereka tapi masih aja belagak gila (agak kesel juga nih... huh). 

Lucu itu melabeli aksi demonstrasi sebagai ancaman nasional sedangkan yang ngomong sendiri bertekad menghentikan aksi dengan kekerasan (go figure siapa orang pemerintah Mesir yang rada-rada ini). Mediasi internasional yang katanya gagal lalu seperti dijadikan justifikasi atas tindakan represif Militer Mesir terhadap para aktivis dan demonstran. LOL. I just don't get it, really. The fact that orang pemerintah sendiri sangat ignorant tentang negaranya... *smh* Saya yakin mereka nggak tahu bahwa para demonstran itu bukan hanya pendukung Morsi. I repeat, bukan semuanya pendukung Morsi. Told ya that Egypt is getting more and more complicated since the Arab Spring. So here's the situation, there are: Pro Morsi, Pro Revolution, Pro SCAF (The Supreme Council of the Armed Forces aka Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir), Anti Morsi, Anti Revolution, Anti SCAF, and......... commoners diantara para demonstran itu. Bagaimana media dan publicists pemerintah sengaja mengemas konflik ini sehingga yang orang awam ketahui hanya ada Pro Militer dan Pro Morsi sedang gontok-gontokan, hmmm... y'all people should know this thing.

Ada yang lebih lucu lagi dari ini, yaitu opini yang sengaja dibuat untuk menggiring masyarakat untuk menyudutkan Islam. I was like, "what the fork are these geniuses bluff about?" Some, malah ada yang terang-terangan jadi conflict entrepreneur spesialis subjek agama dengan menyebutkan bahwa beberapa anggota Militer Mesir yang menembaki demonstran dan menghancurkan rumah sakit itu beragama Christian. LMAO. Get a life, Men. Those are humans. This is a serious case about human race. Probably this is the right time for me to sing, "don't they know... it's the end of the world?" no?

Tidak ada teman yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Kira-kira begitulah esensi politik. Like please, nothing compares to it, unless there's anarchy. Jadi selama masih ada konflik kepentingan di Mesir, nggak akan selesai. Bisa-bisa satu per satu rakyatnya minta suaka politik hanya untuk menyelamatkan diri. Amit-amit. Egypt that got so many deserts has deserted its people... what an irony.

I hope my sotoy words could give you all info selewat tentang apa yang terjadi di Mesir. Harap maklum karena ini cuma sekedar sotoy-sotoyan jadi jangan dimasukin ke dalam hati... mendingan terus berdoa aja dari hati yang paling dalam semoga saudara kita sesama manusia ciptaan Tuhan di Mesir sana nggak ada lagi yang mati sia-sia. You'll Never Walk Alone, Egypt. May Allah be with you... amin.



No comments:

Post a Comment