Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Wednesday, 5 June 2013

Anak-anak, Ibu Rindu...

Tiba-tiba saja aku teringat celoteh Yco David,

"Ibu, look! Look, Ibu! I can do this alone. I'm so awesome!"

Anak itu... fisiknya kecil, kulit cokelatnya membedakan ia dengan saudara-saudara yang separuh Belanda, tapi kecerdasannya cukup besar untuk mengalahkan mereka. 


Kakaknya, Aaron, tampan dan fisiknya besar. Jago olahraga dan matematika namun lemah dalam bahasa. Si kecil Jesse, 4 tahun, menganggapku teman mainnya dan selalu memanggilku "Kamu," bukan "Ibu" seperti kedua kakaknya. Ah... iya. Tara. Bagaimana mungkin aku lupa si bayi mungil bermata bulat itu. Entah apa yang membuatnya selalu bergelayut manja saat aku tiba. "Anyiiiiiiih!" sekuat tenaga ia memanggil namaku dan berlari... hap! Aku menangkapmu, Tara! :)

Keluarga David menjadi bagian dari hari-hariku sejak 2 tahun lalu. Aku adalah guru home schooling bagi putra putri Meneer Raymond dan Ibu Endang. 4 anak sekaligus. Kekacauan kerap kali terjadi di rumah besar bernuansa eklektik itu. Aaron ingin didahulukan. Yco tak mau dinomorduakan. Jesse capek ketika membuka buku PR. Dan Tara... Tara ingin ikut semua pelajaran yang kakak-kakaknya ikuti. Chaos. :)

Keadaan 180° di rumah keluarga Revuelta. Lily Dhevi Revuelta, si cantik muridku yang lain. Putri kesayangan Monsieur Hugues Revuelta dan Ibu Sita. Lily tak punya saudara perempuan. Setiap aku datang, ia senang sekali. Selalu ingin cepat menyelesaikan pelajaran karena hendak menghabiskan waktu yang tersisa dengan menonton DVD bersamaku.

"I wish you could stay longer every time you come here..." ujarnya setengah memohon.


Anak-anak. Makhluk-makhluk kecil itu telah menjadi ciptaan Tuhan favoritku selama bertahun-tahun.
Perjalananku memberikan bantuan ke desa-desa pasca gempa Yogyakarta beberapa tahun yang lalu tak akan kulupakan begitu saja. Itulah awal dimana aku menemukan passionku, alter-egoku. Aku, seorang guru.
Masih kuingat betapa sulitnya menahan cucuran air mata saat pertama bertemu anak-anak yang mencari buku-buku pelajaran mereka diantara reruntuhan tembok rumah. Hal yang dapat membahayakan jiwa mereka.
"Belum ngerjakan PR, nanti Bu Guru marah."
"Kertas ulangan saya yang dapat nilai 10 ada di dalam rumah!"
"Buku tulis saya masih baru... itu hadiah dari Bapak."
Sungguh, besar sekali keinginan mereka untuk kembali bersekolah. Mengabaikan keselamatan demi mendapatkan kembali 'harta' mereka. Saat itu juga aku kembali ke mobil. Aku masuk, mengunci pintu dan menangis. Aku tak ingin terlihat sedih di depan mereka yang jagoan itu. "Tenang, Rani, tenang... pikirkan bagaimana cara membantu mereka..."
Kuseka air mataku kemudian berlari menghampiri mereka.

"Kalian mau belajar lagi?" tanyaku kepada salah satu dari mereka

"Ya mau, Mbak. Tapi kan sekolah ambruk."

"Tapi kalian mau kan belajar lagi? Dua hari lagi Mbak datang ya, kita belajar!" ucapku ke mereka.

"Belajar di kemah (tenda) ya gak apa-apa kok Mbak! Tapi gak punya pensil..."

"Nanti Mbak bawakan. Buku tulis, pensil, penghapus, penggaris, apa lagi?"

"Jajan, Mbaaak!" celoteh mereka serempak.

Sinau. Sejak saat itu Sinau menjadi sekolah berjalan mereka. Aku dan kedua teman yang kuajak bersama-sama mengajar anak-anak bersemangat itu. Satu dusun, dua dusun, tiga, begitu seterusnya. Hingga saat aku mengambil Kuliah Kerja Nyata, aku pun memilih seksi pendidikan dasar. Seperti cawan kosong, aku merasa penuh setelahnya. Aku menyukai hal ini. Anak-anak, mengajar, ini menyenangkan!

Aku masih merasa, mengajar, menjadi seorang guru adalah alter-egoku yang terbaik. Selepas memperoleh gelar Sarjana Sastra, aku menjadi guru di sebuah sekolah berkurikulum internasional di luar kota Yogyakarta. Petualangan baru yang tak kalah menyenangkan.

Wajahku yang tergolong antagonis menurut orang kebanyakan, ternyata tidak demikian dengan anak-anak di kelas Austria. Mereka dengan cepat akrab denganku. Aku sendiri heran. Kok bisa ya? :D

Aku rindu anak-anakku...

Aku rindu suara tawa dan tangis mereka.

Aku rindu tangan-tangan kecil yang berusaha menggapaiku hanya untuk sekedar meminta pelukan.
Aku rindu mulut mungil mereka memanggilku, "Ibu..." sebuah panggilan yang mulia.
Aku rindu perasaan dibuat kesal dan geram karena mereka merajuk.

Anak-anak, Ibu rindu...
:'(

Thursday, 25 April 2013

THE DAY HAS COME (FINALLY!)

I DON'T KNOW HOW TO DESCRIBE THE WAY I FEEL RIGHT NOW BUT........ ADSASDHSJDBFAOSHDCAOSUDHPIASHFJSBDCIUQEFIQWJFOASCO LIVERPOOL FC IS GONNA COME TO INDONESIA!!!


Finally the BIG DAY that I told ya yesterday finally came. One of the wildest dreams I've ever had, probably every single LFC fan in Indonesia, too... the fact that LFC will come to Indonesia is the best thing ever!

I've been waiting for this moment for so long. Maybe you, too. Now that we're no longer wait, it's pleeeeeasing! I myself can't stop smiling at the office. :))))))

I was once very pessimistic about this but Bapak Liverpool FC Indonesia aka Mas Andhika Suksmana (@deekasuksmana) tried so hard to make it true. Thank you, Mas Dhika... your energy and effort are priceless. He did his best for the sake of Indonesian Reds. Salute.

I can't wait to meet my heroes. The most anticipated: MARTIN KELLY, FFS!

Ah, here's the video message from Captain Fantastic.

Hope he could come with the whole squad, too.





OH, HAPPY DAY! :)